Showing posts with label Keadaan. Show all posts
Showing posts with label Keadaan. Show all posts

Solo Batik Carnival II

Tuesday, 14 July 2009

Jalan Slamet Riyadi Solo pada hari Minggu (28/6) mulai perempatan Purwasari sampai bundaran Geladag akan ditutup total karena digunakan untuk acara Solo Batik Carnival II, yang akan dilepas oleh Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu.

"Penutupan jalan itu dilakukan karena di kawasan Purwosari digunakan panggung kehormatan dimulai Sabtu (27/6) pukul 20.00 WIB, sementara itu Minggu (28/6) dari Purwosari sampai bundaran Geladag ditutup total," kata Kepada Dinas Pariwisata Seni Budaya Kota Surakarta, Drs Purnomo Subagio di Solo, Jumat (26/6).

Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu beserta tamu undangan lainnya seusai melepas karnaval tersebut akan naik kereta yang berhenti di Bundaran Geladag, sementara Walikota Surakarta, Ir Joko Widodo dan Wakilnya FX Hadi Rudyatmo, juga memakai pakaian batik untuk ikut acara tersebut.

Untuk kelancaraan Solo Batik Carnival yang merupakan salah satu dari tujuh Event Indonesia Creative itu, ada 59 titik perempatan jalan yang ditutup.

Oleh karena itu, diharapkan kepada masyarakat yang akan menyaksikan acara ini mau memperhatikan rambu-rambu jalan tersebut.

Solo Batik Carnival merupakan event tahunan yang diadakan oleh Pemerintah Kota Surakarta bekerjasama dengan Solo Center Point serta masyarakat, dengan peserta 300 orang yang diikuti oleh anak-anak, remaja, karyawan, ibu-ibu rumah tangga dari lintas etnik dan usia di Solo.

Solo Batik Carnival untuk mengangkat Solo sebagai Kota Batik. Peserta Solo Batik Carnival telah melakukan workshop (dance, rancangan kostum, runway, rias, musik dan seluk beluk carnival) selama tiga bulan.

Untuk Solo Batik Carnival kedua ini akan mengangkat topeng tradisi sebagai tema utama, selain batik sebagai bahan baku utama pembuatan kostum karnaval.

Imajinasi dan kreatifitas peserta sangat diperlukan untuk membentuk kostum karnaval yang indah, dipadukan dengan properti topeng yang sesuai dengan temanya.

Ada tiga jenis topeng yang digunakan untuk karnaval ini, yaitu Panji yang menggambarkan topeng halus seorang raja dengan kehalusan dan kecantikannya, Kelana yaitu topeng yang menggambarkan kesatria atau raksasa yang menggambarkan amarah dan kemarahan dalam pertempuran, serta Gecul yaitu topeng yang menggambarkan punakawan (abdi dalem) yang dengan tingkah lucunya dan wajah komedi.

Peserta Solo Batik Carnival akan berangkat dari Purwosari dengan jalan kaki sambil menari yang memakai pakaian motif batik beraneka warni itu jalan kaki sekitar 6,5 kilometer, dan berakhir sampai di halaman Balikota Surakarta.

Untuk urut-urutan acara tersebut yaitu pembawa spanduk, bendera, penari panji motif batik, tari topeng, terdiri dari Panji, Kelana dan Gecuk. Dalam rangka memeriahkan suasana tersebut kepada para penonto juga diminta memakai pakaian batik.

Dalam rangka memeriahkan acara tersebut di city walk dari Purwosari sampai Gendengan, juga akan digelar Srawung Batik (pameran dan edukasi batik) yang diikuti peserta dari lima kota yaitu Yogyakarta, Madura, Lasem, Indramyu dan Solo sebagai tuan rumahnya.

Untuk mengamankan jalannya acara tersebut, akan diterjunkan petugas khusus yang mengatur arus lalul intas sebanyak 192 dan 1000 petugas gabungan lainnya

Sejarah Besuki, dari Solo Sampai Pamekasan

Tuesday, 26 May 2009



Prajurit Keraton Surakarta bersantai sebelum menyambut Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Megawati Soekarnoputri saat deklarasi pasangan calon gubernur dan wakil gubernur Jawa Tengah, Bibit Waluyo dan Rustriningsih, di Pagelaran Keraton Surakarta, Minggu (30/3).



Sejarah Kecamatan Besuki di Kabupaten Situbondo, Jatim, yang bersumber dari peran tokoh Ke Pate Alos dari Pamekasan, Madura, tidak bisa dilepaskan dari Kraton Solo.

Ke Pate Alos yang juga dikenal sebagai Raden Bagus (RB) Kasim Wirodipuro adalah demang pertama Besuki. Tokoh yang legendaris di kalangan masyarakat Besuki ini menurut sejumlah tokoh di wilayah itu memiliki darah keturunan raja-raja di Solo.

Menurut tokoh masyarakat Besuki, Moh. Hasan Nailul Ilmi, ikatan nasab ke Solo itu terjalin karena Raden Abdullah Surowikromo, kakek dari RB Kasim Wirodipuro disebut-sebut sebagai saudara dari Raden Zaenal Abidin alias Susuhunan Pakubuwono II.

"Saya lakukan pengecekan ke Madura, tepatnya di Desan Tanjung, Kecamatan Pademawu, Pamekasan, disebutkan bahwa Rabden Abdullah itu saudara Pakubowono II, tapi ketika saya cek ke Kraton Solo disebutkan bahwa beliau justru putera dari Pakubuwono II," katanya.

Mengenai hal itu, katanya, dia memang belum mendapatkan kepastian. Namun, yang dia yakini dari sejumlah literatur yang ditemukan arsip nasional di Jakarta, Ke Pate Alos memang memiliki darah keturunan dari Solo.

"Makanya tidak heran kalau keluarga keturunan Ke Pate Alos itu dulunya sangat fasih berbahasa Jawa tinggi," katanya.

Ia menjelaskan, Raden Abdullah adalah keluarga kerajaan di Solo yang tidak mau kompromi dengan Belanda kemudian berkelana hingga ke Madura. Anak dari keluarga bangsawan inilah yang kemudian membabat alas di wilayah yang kemudian disebut Besuki.

Dalam buku Babad Besoeki yang ditulis sekitar 1882 M, dengan penulis tidak tercantum disebutkan bahwa Besuki dulunya merupakan hutan belantara. Meskipun berada di pinggir laut, wilayah itu merupakan daerah subur.

Sementara pada waktu bersamaan, di wilayah utara Besuki, yakni di Madura sedang dalam masa paceklik karena daerah itu tandus. Salah satu yang merasakan kondisi paceklik itu adalah Raden Abdurahman Wirobroto, putera dari Raden Abdullah Surowikromo yang tinggal di kawasan yang kini menjadi Desa Tanjung, Kecamatan Pademawu, Pamekasan.

Dalam buku Babad Besoeki bertulis huruf Arab Pegon dan berbahasa Jawa yang kemudian diterjemahkan oleh Moh. Hasan Nailul Ilmi itu, disebutkan, untuk mengatasi kondisi paceklik berkepanjangan, Raden Abduramhan mencoba mencari alternatif penghidupan ke selatan Madura yang kemudian sampai di Besuki.

"Beliau waktu itu menggunakan perahu kecil yang oleh orang Madura disebut perahu kerocok yang digerakkan dengan dayung. Saat itu tahun 1743 M, Raden Abdurahman sendiri pergi ke Besuki dan tiba pertama kali di daerah Nambakor. Beliau sampai tiga kali berkunjung ke Besuki ini," katanya.

Sementara pada naskah Babad Besuki yang ditulis Edy Sudiono dan kawan-kawan disebutkan bahwa kapal yang digunakan Raden Abdurahman adalah kapal tongkang yang dilengkapi dengan layar.

Baik naskah yang ditulis oleh Edy Sudiono maupun yang diterjemahkan oleh Hasan sama-sama menyebutkan bahwa Raden Abdurahman begitu takjub dengan kesuburan wilayah Besuki yang saat itu belum diberi nama.

"Setelah membabat alas, beliau kemudian bercocok tanam di situ. Setelah itu beliau pulang ke Madura. Beliau kemudian kembali lagi ke Besuki dengan membawa anaknya bernama Kasim yang saat itu berusia sembilan tahun, termasuk 20 orang kepala keluarga dari Madura," katanya.

Raden Abdurahman berada di Besuki hingga 1760 dan setelah itu kembali ke Madura hingga meninggal di Tanjung, Pademawu. Kiprahnya diteruskan oleh Ke Pate Alos.

Menurut Yoyok, tokoh pemuda yang juga gemar menggali sejarah Besuki, karena masih keturunan bangsawan itulah, maka budaya maupun tatakrama masyarakat di Besuki dan kemudian juga di Bondowoso, tergolong halus.

Moh. Hasan Nailul Ilmi yang kini memimpin jemaah istighasah setiap malam Jumat di makam Ke Pate Alos tidak hanya gemar mencari koleksi data mengenai sejarah Besuki.

Ia bahkan memiliki obsesi menggelar kegiatan setiap 12 Robiul Awal. Tradisi itu merupakan kegiatan rakyat yang digelar oleh Ke Pate Alos dengan nama "Bupak Bumi".

Tidak begitu jelas apa arti dari kedua kata itu. Hasan hanya menjelaskan bahwa acara itu digelar di arena terbuka yang diikuti oleh masyarakat Besuki dengan berbagai macam hiburan.

Mengenai kemungkinan ada penolakan dari tokoh agama, ia mengemukakan, acara itu harus dikemas secara Islami.

"Tujuannya bukan apa-apa, tapi untuk menyadarkan masyarakat Besuki bahwa mereka itu memiliki sejarah besar di masa lalu," katanya.

Meminjam istilah budayawan Emha Ainun Nadjib saat mementaskan lakon teater berjudul Tikungan Iblis beberapa waktu lalu, masyarakat Nusantara sebetulnya adalah turunan rajawali, tapi kini menjadi emprit karena keadaan.

Hasan agaknya ingin menyadarkan masyarakat Besuki bahwa mereka adalah "keturunan" tokoh berkualitas rajawali, tapi dalam perkembangan sejarah terus meneruskan ’diempritkan".

Bersamaan dengan itu, ia juga mengajak masyarakat untuk bersama-sama menyelamatkan warisan budaya masa lalu leluhurnya yang kini masih tersisa, termasuk gedung kantor bekas keresidenan dan kewedanan.

Hasan menyayangkan tidak terurusnya warisan budaya itu, termasuk tidak ada perhatian dari pemkab setempat.

"Dulu gedung bekas keresidenan dengan kewedanan itu menggunakan marmer Italia, tapi sekarang sudah lenyap semua diganti dengan tegel biasa. Ke mana marmer-marmer itu?," katanya.

Sementara Fadli Haroen (39), juru pelihara makam Ke Pate Alos mengemukakan, saat ini tidak ada perhatian serius dari pemkab untuk memelihara warisan yang oleh masyarakat dikeramatkan itu.

"Malah justru orang-orang China yang banyak membantu, termasuk membuatkan cungkup makam zaman dulu. Sekarang juga banyak orang China di Besuki ini yang peduli pada makam ini," katanya.

Pemkab Situbondo sendiri beralasan kesulitan menangani benda peninggalan sejarah di Kota Kecamatan Besuki, karena ada yang dikuasai perorangan.

"Ada beberapa peninggalan sejarah Besuki yang dikuasai perorangan atau yayasan. Seperti Makam Ke Pate Alos kini dikelola oleh yayasan sehingga Pemkab kesulitan menangani," kata Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Pariwisata Kabupaten Situbondo, Agus Cahyono.

Ia mengemukakan, Pemkab akan lebih leluasa mengelola aset itu jika memang keberadaannya menjadi "milik" pemerintah daerah. Kalau dikelola oleh yayasan, ia mengaku pemkab susah untuk "masuk".

"Sementara aset berupa bangunan kuno bekas karesidenan yang ada di sebelah timur kantor Polsek, kami masih melacak kepemilikan tanah di tempat itu, sementara bekas kantor kewedanan yang di selatan alun-alun kini memang dikelola pemkab," katanya.

Ia mengemukakan, bekas kantor kewedanan itu kini sebagian ditempati untuk kantor SMA Negeri 1 Besuki yang memang baru berdiri. Penggunaan itu dianggap tidak masalah karena tidak mengubah bangunan aslinya.

"Kami berupaya nantinya gedung itu akan kami jadikan perpustakaan," katanya singkat.

Ia mengakui bahwa Kota Besuki dulu pernah menjadi kabupaten dan keresidenan, dan menyimpan banyak aset bernilai sejarah tinggi. Namun, untuk membuktikannya dia merasa kesulitan mendapat sumber informasinya, kecuali hanya melalui cerita di masyarakat.

Bengawan Solo dari Masa ke Masa

Bengawan Solo dari Masa ke Masa



Air Bengawan Solo terus meluap merendam sawah dan sebagian rumah waga. Sebagian warga Desa Sumbangtimun Kecamatan Trucuk bersiaga


Oleh Subur Tjahjono

Bagaimana asal-muasalnya sehingga sungai yang membentang sepanjang 548,53 kilometer dari perbukitan Desa Jeblogan, Wonogiri, hingga ke Desa Pangkah Wetan, Gresik, itu akhirnya disebut Bengawan Solo? Ekspedisi Bengawan Solo Kompas, 5-20 Juni 2007, sedikit banyak telah menguak misteri di sungai terbesar di Pulau Jawa tersebut.

Pelacakan sejarah Bengawan Solo dilakukan oleh M Dwi Cahyono, ahli sejarah dan arkeologi dari Universitas Negeri Malang, yang juga ikut serta dalam ekspedisi tersebut. Beberapa catatan sejarah yang terkait dengan kondisi ekologis dari masa ke masa Bengawan Solo juga ditemukan oleh Tim Ekologi Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta yang dipimpin MMA Retno Rosariastuti.

Dwi Cahyono mengutip sumber data tekstual pertama yang memberitakan aktivitas manusia di Bengawan Solo, yaitu Prasasti
Telang (11 Januari 904), yang dikeluarkan oleh Rakai Watukura Dhyah Balitung dari Mataram. Pokok isi prasasti tersebut mengenai penetapan Desa Telang, Mahe, dan Paparahuan sebagai desa perdikan atau sima berkenaan dengan pembuatan penyeberangan sungai di Paparahuan. Nama Paparahuan selanjutnya berubah menjadi Desa Praon di dekat Wonogiri sekarang, yang kemungkinan turut tenggelam dalam genangan Waduk Gajah Mungkur.

Perihal tempat penyeberangan antarsisi bengawan juga diberitakan dalam Prasasti Canggu atau Troulan I, yang juga dikenal dengan Ferry Charter. Prasasti tembaga bertarikh 1280 Saka atau 7 Juli 1358 yang ditulis atas perintah Hayam Wuruk ini berisi penetapan desa-desa di tepi Bengawan Solo dan Brantas sebagai daerah swatantra atau desa perdikan.

Desa-desa di pinggir sungai atau naditirapradesa itu ditetapkan menjadi sima sebagai imbalan atas kewajiban menyeberangkan penduduk dan pedagang secara cuma-cuma. Menurut Dwi Cahyono, maklumat raja ini berlaku secara turun-temurun, sehingga hak kelola atas perahu penyeberangan menjadi milik penuh dari pemimpin sima dan keturunannya.

Menurut Prasasti Canggu, pada daerah aliran Bengawan Solo terdapat 44 desa panambangan dan pada Bengawan Brantas terdapat 34 desa, yang disebut berturut-turut dari hilir ke arah hulu. Sebanyak 35 di antara 44 desa sima penambangan pada Bengawan Solo tersebut dapat ditemukan lokasinya.

Desa sima panambangan yang dilokasikan paling hulu adalah Wulayu. Oleh karena Wulayu merupakan panambangan terhulu, menurut Dwi Cahyono, dapat dipahami bila sebelum sungai besar ini dinamai "Bengawan Solo", dalam naskah Sunda Bhujangga Manik sebutannya adalah Ci Wulayu. Kini tak lagi dijumpai desa atau dusun bernama Wulayu di daerah aliran sungai (DAS) Bengawan Solo.

"Namun, jika menilik bahwa desa sima panambangan Kembu terletak di Karanganyar, yang berbatasan dengan Surakarta, amat boleh jadi Wulayu berada di sekitar Kota Solo sekarang," katanya.

Nama kuno lain untuk menyebut Bengawan Solo adalah Semanggi. Semanggi adalah sebutan baru untuk Wulayu. Toponim Semanggi masih dikenal sebagai nama kelurahan di Kecamatan Pasar Kliwon, Surakarta. Semanggi merupakan penyeberangan sungai dan sekaligus bandar niaga besar bagi kapal-kapal dagang yang hilir-mudik dari Solo ke daerah-daerah lain di sepanjang aliran Bengawan Solo hingga ke muaranya di Gresik.

Menurut Dwi Cahyono, nama Bengawan Semanggi setidaknya masih digunakan hingga tahun 1726, sebagaimana tampak pada laporan Valentyn (1726). Setelah nama Solo populer untuk menamai Surakarta, nama Ci Wulayu dan Bengawan Semanggi ditinggalkan. Sejak itu lazim disebut dengan Bengawan Solo.

"Belum diketahui dengan pasti dari mana nama Solo diambil.Yang perlu disimak, di Sukoharjo terdapat sebuah dusun bernama Solo.
Mungkinkah nama Kota Solo diambil dari nama dusun ini?" ujar Dwi Cahyono.

Panggung sejarah

Oleh karena itu, Dwi Cahyono menyimpulkan, dalam panggung sejarah Jawa, Bengawan Solo memainkan peran penting. Aneka peristiwa-baik peristiwa ekonomi, politik, religi, kesenian, maupun transportasi dan komunikasi-hadir di daerah aliran Bengawan Solo dalam lintas area dan lintas masa.

Selain itu, aspek ekologis juga dapat dilihat sisi sejarahnya. Hasil riset Tim Ekologi UNS mengutip sumber-sumber di Museum Radya
Pustaka Surakarta, menemukan bahwa tepi Bengawan Solo di daerah Semanggi, Surakarta, dan Langenharjo, Sukoharjo, dahulu merupakan dermaga utama tempat kapal berlabuh. Ini berarti kondisi Bengawan Solo pada masa itu sangat baik.

Air cukup melimpah dari hulu hingga ke hilir sehingga dapat digunakan untuk sarana transportasi yang dapat diandalkan.
Ketersediaan air ini tidak lepas dari kondisi ekologis di sepanjang DAS Bengawan Solo pada masa itu, yang tentunya harus dalam keadaan baik.

Catatan sejarah lainnya menyebutkan bahwa pada masa kekuasaan Sunan Pakubuwana X(1893-1939), dari Keraton Kasunanan, hidup pejabat keraton yang bernama Gusti Riya dengan gelar Pakuningrat. Gusti Riya memiliki pesanggrahan, tempat peristirahatan untuk tujuan rekreasi, di tepi Bengawan Solo yang wilayahnya disebut Kedung Bacin.

Meskipun bacin dalam bahasa Jawa berarti 'bau yang tidak sedap', tempat ini justru termasyhur karena pemandangannya yang indah. Pakuningrat memiliki panggung, yang disebut Panggung Sanggabuwana, sebagai sarana untuk menikmati pemandangan di sungai. Pada musim kemarau, di tempat ini berlangsung acara panen ikan karena Kedung Bacin memilikikedalaman yang cukup, sehingga pada musim kemarau banyak ikan dengan ukuran yang besar yang terperangkap di dalamnya dan memudahkan masyarakat untuk menangkapnya.

Dari hasil wawancara Tim Ekologi UNS dengan penduduk sekitar Kedung Bacin diketahui, ikan yang banyak hidup pada masa itu adalah bader, jendil, sili, jambal, kutuk atau gabus, wagal, udang, dan jenis ikan lainnya. Pada pesta itu biasanya Sunan Pakubuwana X hadir.

Kondisi ini dapat memberikan gambaran bahwa pada masa itu ikan berada dalam jumlah yang melimpah. Hal ini dapat terjadi karena
nutrisi yang dibutuhkan oleh ikan, yaitu plankton, cukup tersedia sehingga ikan dapat tumbuh dan berkembang biak dengan baik.

"Kondisi ekologis yang baiklah yang dapat menciptakan ikan banyak di situ," kata Retno.

Lain dulu, lain sekarang. Saat ekspedisi dilangsungkan, ditemukan kanyataan bahwa Kedung Bacin hanya dipenuhi oleh ikan sapu-sapu. Ini suatu pertanda bahwa kondisi air di sana telah tercemar.

Di wilayah hulu, pada masa itu hutan di Wonogiri menjadi penyedia kayu yang dibutuhkan oleh keraton. Hal ini dapat dilihat dari
bangunan keraton Kasunanan dan Mangkunegaran yang menggunakan kayu jati pilihan yang berasal dari hutan di Wonogiri. Kayu jati yang digunakan telah ditentukan diameternya, biasanya ukurannya lebar, sebagai indikasi bahwa umur tanamannya cukup tua.

"Hal ini pertanda bahwa pada masa itu hutan dijaga keberadaannya agar tetap baik, yakni dengan tidak menebang pohon secara
sembarangan," ujar Retno.

Faktor topografi dengan kemiringan yang tinggi di hulu Bengawan Solo menyebabkan air sungai mengalir dengan deras sehingga tidak ada kesempatan yang cukup bagi tanah bersama-sama perakaran tanaman untuk menangkapnya. Kondisi ini ternyata telah diantisipasi oleh Pemerintah Hindia Belanda pada masa itu, terbukti dengan ditemukannya bangunan dam kuno di Desa Selomerto, Kecamatan Giriwoyo, Wonogiri, yang dibangun pada tahun 1917. Namun, saat ekspedisi dilaksanakan, dam ini sudah tidak berfungsi karena bergesernya arah aliran sungai.

Peran penting Bengawan Solo tak lupa adalah meluapnya air di sungai tersebut. Catatan terawal yang dapat ditemukan mengenai banjir Bengawan Solo adalah banjir besar tahun 1863 yang merendam daerah hulu. Banjir besar pernah tercatat terjadi tahun 1887 di Ngawi, tahun 1966 di Solo, dan tahun 1968 di Lamongan.

Terakhir, menjelang berakhirnya tahun 2007, banjir besar kembali terjadi yang menggenangi sejumlah kabupaten dan kota di Jawa Tengah dan Jawa Timur, yakni Kabupaten Sukoharjo, Kota Solo, Kabupaten Sragen, Ngawi, Blora, Bojonegoro,Tuban, Lamongan, dan Gresik.

"Ada kecenderungan, kalau dilihat dari kala ulang Bengawan Solo, kawasan yang tergenang tiap tahun bertambah luas," kata Retno
Rosariastuti.

"Kalau dilihat dari kala ulang Bengawan Solo, kawasan yang tergenang tiap tahun bertambah luas." Retno Rosariastuti

Solo Siap Gelar Konferensi dan Ekspo Kota Pusaka Dunia

Monday, 25 May 2009

Solo Siap Gelar Konferensi dan Ekspo Kota Pusaka Dunia



Berbagai persiapan menyambut Konferensi dan Ekspo Kota-kota Pusaka Dunia (WHCCE) terus dilakukan, salah satunya di Pura Mangkunegaran, Solo, Jawa Tengah, Jumat (24/10). Kegiatan yang diikuti lebih dari 350 peserta dari 32 negera ini akan dimulai hari ini hingga 28 Oktober.
/


SOLO, JUMAT- Hingga Jumat (24/10) ini Pemerintah Kota Solo dan panitia sibuk mempersiapkan pelaksanaan Konferensi dan Ekspo Kota-Kota Pusaka Dunia (World Heritage Cities Conference and Expo/WHCCE) wilayah Eropa-Asia. Kegiatan skala internasional yang akan berlangsung mulai Sabtu (25/10) besok hingga Selasa (28/10) itu menghadirkan kesibukan di Pura Mangkunegaran Surakarta dan The Sunan Hotel Solo.

Selama beberapa hari kawasan Pura Mangkunegaran dan The Sunan Hotel Solo, akan menjadi pusat kegiatan WHCCE. Sekitar 400 peserta dari 156 kota dan 32 negara akan hadir di Solo mengikuti WHCCE. "Beberapa sudah datang, mungkin yang lain baru tiba di Solo besok," kata Manager Publikasi dan Promosi WHCC Irfan Suktikno.

Hingga Jumat (24/10) malam ini, sejumlah peserta telah memasuki Kota Solo. Dari data di media center WHCC, 26 dari 32 negara yang akan hadir, telah berada di Kota Solo. Rencananya sekitar 350-400 peserta dari 156 kota di dunia akan menghadiri kegiatan ini.

Sementara itu, kesibukan terlihat di kawasan Pura Mangkunegaran Surakarta dan The Sunan Hotel Solo. Dua tempat di Kota Solo ini akan menjadi pusat kegiatan WHCC. Konferensi akan berlangsung di The Sunan Hotel, sedangkan Ekspo dan Workshop di Pura Mangkunegaran.

Di Pura Mangkunegaraan kesibukan terlihat, mulai dari Pendhapi Ageng, halaman, hingga di luar tembok Pura Mangkunegaran. Di Pendhapi Ageng Mangkunegaran dipajang berbagai furniture antik yang berusia puluhan hingga ratusan tahun seperti almari, tempat tidur, meja dan kursi.

Di halaman dipajang perahu kuno, alat bajak sawah yang kuno serta sejumlah benda-benda kuno. Sementara di luar tembok berdiri puluhan stan, termasuk stan khusus untuk berbagai motif batik dari Solo. Semua sudah siap, ujar Kepala Dinas Pekerjaan Umum Pemkot Solo, Budi Yulistianto.

Kesibukan yang sama juga terlihat di The Sunan Hotel. Selain persiapan 100 kamar untuk peserta WHCCE, manajemen hotel juga mempersiapkan ball room untuk penyelenggaraan konferensi. Bahkan menu makanan untuk peserta juga dipersiapkan.

Untuk menyambut tamu, terutama dari Rusia yang peserta cukup mendominasi, para pegawai hotel dilatih berbagai Rusia dan sastra. Peserta dari Rusia sejak Jumat sudah hadir di Solo. Paling tidak kami bisa berkomunikasi dengan mereka, dan memberikan pelayanan terbaik, ujar Public Relation Manager The Sunan Hotel Solo, Retno Wulandari.

UNS Solo Terbaik di Asia



Mahasiswa UNS


SOLO, — Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta masuk universitas terbaik dari 200 peringkat universitas terbaik di Asia (termasuk Jepang), sesuai laporan dari The Higher Education Suplement-Quacquarelli Symonds (THES QS) Asia, Mei 2009.

Hasil itu menunjukkan UNS merupakan salah satu dari delapan universitas di Indonesia yang bisa masuk rangking 200 besar di Asia meski di Indonesia ada 2.700 perguruan tinggi. "Peringkat UNS sejajar dengan UNDIP Semarang dan berada diatas UNBRAW Malang," kata Rektor UNS Prof Dr Much Syamsulhadi, dr SpKj (K), di kampus Kentingan Solo, Senin (25/5).

Daftar delapan universitas di Indonesia yang masuk dalam 200 peringkat Asia, yaitu Universitas Indonesia (UI) berada di peringkat 50, Universitas Gajah Mada (UGM) peringkat 63, Institut Teknologi Bandung (ITB) peringkat 80, Institut Pertanian Bogor (IPB) peringkat 119, Universitas Airlangga (UNAIR) peringkat 130, Universitas Sebelas Maret (UNS) dan Universitas Diponegoro (UNDIP) sama-sama menempati peringkat 171, dan Universitas Brawijaya (UNBRAW) peringkat 191.

Peringkat tersebut disusun dengan menilai kualitas penelitian, situasi dalam jurnal internasional, kualitas pembelajaran di fakultas, angka mahasiswa dan tenaga pengajar asing di UNS dan angka dosen UNS yang aktif di universitas luar negeri, serta keterlibatan alumni UNS di lembaga-lembaga atau industri dunia.

"Prestasi UNS tersebut terkait erat dengan kebijakan internasional Rektor UNS yang diimplementasikan oleh Pembantu Rektor IV melalui pembentukan Taskforce THES QS- International Office yang sudah mulai bekerja pada pertengahan tahun 2008 dan mendaftarkan tahun 2009," katanya.

Untuk selanjutnya, UNS akan ikut serta dalam pemeringkatan dunia. Salah satu bukti lainnya adalah dengan diterimanya 23 orang dosen UNS untuk menempuh program S-3 di luar negeri dengan biaya DIKTI, mereka akan berangkat 2009, ke beberapa universitas di Eropa, Australia, dan Asia.

Salah satu standar pemeringkatan yang dijadikan acuan adalah hasil penilaian yang dilakukan lembaga pemeringkatan universitas melalui THES-QS. Lembaga yang berpusat di London ini setiap tahun menerbitkan buku panduan untuk mahasiswa pencari universitas di dunia. "Tahun ini THES-QS juga menerbitkan pemeringkatan universitas terbaik di Asia," kata Rektor UNS.

Banjir Bengawan Solo dan Jawa Timur

Monday, 19 January 2009

Banjir Bengawan Solo dan Jawa Timur






Banjir Bengawan Solo hingga Jawa Timur ini kalau dirunut jelas disebabkan oleh ketidak-mampuan Bendungan Gajahmungkur untuk menampung air hujan yang sangat ekstrim tinggi selama beberapa hari. Perlu diingat bahwa curah hujan kemarin itu tidak hanya “menyerang” hulu Sungai Bengawan Solo saja tetapi juga sepanjang aliran anak-anak sungai Bengawan Solo.
Jebolnya tanggul-tanggul di sekitar Solo Baru jelas menunjukkan adanya keteledoran dalam perawatan tanggul selama ini. Tanpa mengurangi bagaimana susahnya Departemen PU mengelola, tetapi bisa disebut bahwa keteledoran ini mungkin juga karena krisis ekonomi. Krisis ekonomi sejak beberapa tahun lalu dapat menyebabkan prioritas perawatan DAS Bengawan Solo terabaikan. Ini bisa saja dianggap Dept PU telah ‘kecolongan’ dalam hal ini.
Kalau untuk menangani banjir sungai Bengawan Solo salah satu yang mestinya dilakukan bukan sekedar memperbaiki tanggul saja, tetapi harus dikerjakan secara terpadu sejak dari hulu yaitu mulai Bendungan Gajahmungkur, sepanjang aliran sungai Bengawan Solo,

Budaya Solo

Monday, 29 December 2008

Budaya

Bahasa
Bahasa daerah yang digunakan di Surakarta adalah bahasa Jawa dialek Surakarta. Dialek ini berbeda sedikit dengan dialek-dialek Jawa yang digunakan di kota-kota lain seperti di Semarang maupun Surabaya. Perbedaannya berupa kosakata yang digunakan, ngoko(kasar)-krama(halus)nya, dan intonasinya. Bahasa Jawa dari Surakarta digunakan sebagai standar bahasa Jawa nasional (dan internasional, seperti di Suriname).

Makanan
Beberapa makanan khas Surakarta antara lain: Nasi liwet, nasi timlo, nasi gudeg (juga diklaim oleh Yogyakarta), serabi Notosuman, intip, bakpia Balong, roti mandarin toko kue Orion, dll.

Carnaval
Setiap setahun sekali warga solo melakukan
kirab solo setiap malam satu sura dirayakan di sekitar istana mangkunegaran

carnaval setiap hari jadi kota solo di sekitar jalan slamet riyadi.

Penghijauan
bulan bulan ini masyarakat kota solo melakukan penghijauan dikarenakan terjadinnya global warming.

arsitektur solo


Arsitektur dan peninggalan sejarah

Keraton Surakarta
Sebagai kota yang sudah berusia hampir 250 tahun, Surakarta memiliki banyak kawasan dengan situs bangunan tua bersejarah. Selain bangunan tua yang terpencar dan berserakan di berbagai lokasi, ada juga yang terkumpul di sekian lokasi sehingga membentuk beberapa kawasan kota tua, dengan latar belakang sosialnya masing-masing.
Kraton Kasunanan Surakarta tentu saja adalah bangunan paling pokok dalam konsep penataan ruang Solo. Perencanaan kraton ini mirip dengan konsep yang digunakan dalam pembangunan Kraton Kesultanan Yogyakarta.
Solo merupakan salah satu kota pertama di Indonesia yang dibangun dengan konsep tata kota modern. Kraton yang dibangun berdekatan dengan Bengawan Solo selalu terancam banjir. Karena itu dibangunlah tanggul yang hingga kini masih dapat dilihat membentang dari selatan wilayah Jurug hingga kawasan Solo Baru.
Boulevard yang memanjang lurus dari arah barat laut menuju ke depan alun-alun istana (sekarang Jalan Slamet Riyadi) dirancang untuk mengarahkan pandangan ke arah Gunung Merbabu.
Terdapat pula pengelompokan pemukiman untuk warga pendatang. Kawasan Pasar Gede (Pasar Gedhe Hardjonagoro) dan Pasar Balong merupakan tempat perkampungan orang Tionghoa, sementara kawasan pemukiman orang Arab (kebanyakan dari Hadramaut) terletak di kawasan Pasar Kliwon.
Pedagang batik Jawa pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 banyak mendirikan usaha dan tempat tinggal di kawasan Laweyan (sekarang mencakup Kampung Laweyan, Tegalsari, Tegalayu, Tegalrejo, Sondakan, Batikan, dan Jongke). Di kawasan ini juga didirikan pertama kali organisasi bercorak Islam-nasional yang pertama di Indonesia oleh Haji Samanhudi, Syarikat Dagang Islam pada tanggal 16 Oktober 1905.[3] Bekas kejayaan para pedagang batik pribumi tempo doeloe ini bisa dilihat dari sejumlah rumah mewah di Jalan Dr. Rajiman. Di kawasan ini, mereka memang menunjukkan kejayaannya dengan berlomba membangun rumah besar yang mewah dengan arsitektur cantik namun terlindungi oleh pagar-pagar yang tinggi dengan gerbang ("regol") yang besar.
Di dalam kompleks kraton terdapat perkampungan Kauman yang dulunya merupakan kompleks tempat tinggal para kaum ulama kerajaan dan kerabatnya. Kompleks ini terletak di belakang (barat) Masjid Agung keraton. Beberapa nama kampung di kawasan ini masih menunjukkan jejak tersebut, seperti Pengulon (dari kata "penghulu"), Trayeman, Sememen, Kinongan, Modinan, serta Gontoran. Perkampungan ini dipenuhi beragam arsitektur rumah gedung dengan ornamen hiasan dan model rumah gaya campuran Eropa-Jawa-Tiongkok. Awalnya, Kampung Kauman yang berada di sisi barat depan Keraton Kasunanan ini diperuntukkan bagi tempat tinggal (kaum) ulama kerajaan dan kerabatnya.
Kawasan Solo utara, yang ditata oleh pihak Mangkunagaran, juga memiliki jejak arsitektur yang banyak mendapat sentuhan Eropa. Bagian utara kota Solo dilewati oleh Kali Pepe, yang seperti Bengawan Solo juga berkali-kali menimbulkan bencana banjir. Pembangunan tanggul kali dan pintu air, saluran drainasi, MCK (mandi-cuci-kakus, yang pertama kali diterapkan), serta penempatan kantor kelurahan yang selalu berada pada perempatan jalan, merupakan beberapa jejak yang masih dapat dilihat sekarang, yang pembangunannya dilakukan pada masa pemerintahan Mangkunagara IV.

Benteng Vastenburg

Di kota Surakarta terdapat pula bekas peninggalan kolonial Belanda yaitu Benteng Vastenburg yang dulu digunakan sebagai pusat pengawasan kolonial Belanda untuk mengawasi gerak-gerik Keraton Kasunanan, namun sekarang keadaannya tidak terurus, di pusat kota Surakarta di dekat (sejalan dengan) Balaikota Surakarta. Dulu bangunan ini bernama "Grootmoedigheid" dan didirikan oleh Gubernur Jenderal Baron van Imhoff pada tahun 1745. Benteng ini dahulu merupakan benteng pertahanan yang berkaitan dengan rumah Gubernur Belanda. Benteng dikelilingi oleh kompleks bangunan lain yang berfungsi sebagai bangunan rumah tinggal perwira dan asrama perwira. Bangunan benteng ini dikelilingi oleh tembok batu bata setinggi enam meter dengan konstruksi bearing wall serta parit dengan jembatan angkat sebagai penghubung. Setelah kemerdekaan pernah berfungsi sebagai kawasan militer dan asrama bagi Brigade Infanteri 6/Trisakti Baladaya / Kostrad. Bangunan di dalam benteng dipetak-petak untuk rumah tinggal para prajurit dengan keluarganya.[4]

Gedung Brigade Infanteri
Gedung Brigade Infanteri merupakan bangunan yang dibangun untuk melengkapi kompleks benteng pertahanan Vastenburg.

Kantor Kodim
Terletak di Jalan Slamet Riyadi Surakarta, bangunan ini berkaitan erat dengan Loji Gandrung sebagai rumah komandan pasukan Belanda dan Benteng Vastenburg sebagai pusat pertahanan tentara Belanda di wilayah Surakarta.

Pasar Gedhe Hardjonagoro
Artikel utama untuk bagian ini adalah: Pasar Gede Harjonagoro

Pasar Gede Hardjonagoro
Pada jaman kolonial Belanda, Pasar Gedhe merupakan sebuah pasar "kecil" yang didirikan di area seluas 10.421 meter persegi, berlokasi di persimpangan jalan dari kantor gubernur yang sekarang digunakan sebagai Balaikota Surakarta. Bangunan ini di desain oleh arsitek Belanda bernama Ir. Thomas Karsten yang selesai pembangunannya pada tahun 1930 dan diberi nama Pasar Gede Hardjanagara. Diberi nama Pasar Gedhe karena terdiri dari atap yang besar (Gedhe artinya besar dalam bahasa Jawa). Seiring perkembangan waktu, pasar ini menjadi pasar terbesar dan termegah di Surakarta.
Awalnya pemungutan pajak (retribusi) dilakukan oleh abdi dalem Kraton Surakarta. Mereka mengenakan pakaian tradisional Jawa berupa jubah dari kain (lebar dan panjang dari bahan batik dipakai dari pinggang ke bawah), beskap (semacam kemeja), dan blangkon (topi tradisional). Pungutan pajak kemudian akan diberikan ke Keraton Kasunanan.
Pasar Gedhe terdiri dari dua bangunan yang terpisah, masing masing terdiri dari dua lantai. Pintu gerbang di bangunan utama terlihat seperti atap singgasana yang bertuliskan 'PASAR GEDHE.
Arsitektur Pasar Gedhe merupakan perpaduan antara gaya Belanda dan gaya tradisional. Pada tahun 1947, Pasar Gedhe mengalami kerusakan karena serangan Belanda. Pemerintah Indonesia kemudian merenovasi kembali pada tahun 1949. Perbaikan atap selesai pada tahun 1981. Pemerintah Indonesia mengganti atap yang lama dengan atap dari kayu. Bangunan kedua dari pasar gedhe, digunakan untuk kantor DPU yang sekarang digunakan sebagai pasar buah.[5]

Pasar Klewer

Bagian ini membutuhkan pengembangan

Gapura Kraton dan Pasar Klewer (tampak belakang)
Pasar Klewer merupakan salah satu pasar batik terbesar di Indonesia. Pasar ini terletak di dekat Keraton Kasunanan dan di seberang Masjid Agung Surakarta

Rumah Sakit Kadipolo
Rumah Sakit Kadipolo terletak di jalan Dr. Radjiman dengan luas lahan sekitar 2,5 Ha. Rumah sakit ini didirikan pada masa pemerintahan Sunan Paku Buwono X.
Pada mulanya bangunan ini dibangun khusus untuk poliklinik para abdi dalem kraton. Karena masalah biaya, pada tahun 1948 pengolahannya diserahkan kepada Pemda Surakarta disatukan dengan pengolahan Rumah Sakit Mangkubumen dan Rumah Sakit Jebres. Namun dengan syarat bahwa keluarga kraton dan pegawai kraton yang dirawat di rumah sakit tersebut mendapat keringanan pembiayaan. Tahun 1960 pihak keraton menyerahkan Rumah Sakit Kadipolo sepenuhnya termasuk investasi bangunan berikut seluruh pegawai dan perawatnya kepada Pemda Surakarta.
Tanggal 1 Juli 1960 mulai dirintis penggabungan Rumah Sakit Kadipolo dengan Rumah Sakit Jebres dan Rumah Sakit Mangkubumen di bawah satu direktur yaitu dr. Sutedjo. Kemudian masing-masing rumah sakit mengadakan spesialisasi, RS. Jebres untuk anak-anak, RS. Kadipolo untuk penyakit dalam dan kandungan serta RS. Mangkubumen untuk korban kecelakaan.
1 Agustus 1976 diadakan pemindahan pasien dari RS. Kadipolo ke RS. Mangkubumen sebagai persiapan berdirinya SPK (Sekolah Pendidikan Keperawatan). Pemindahan pasien selesai sampai awal April 1977.
24 April 1977 SPK resmi berdiri dengan menempati bangunan RS. Kadipolo.
Kampus SPK hanya bertahan 5 tahun karena Februari 1982 Depkes Pusat memerintahkan untuk mengosongkan RS. Kadipolo untuk dipindah ke kawasan Mojosongo.
Sejak tahun 1985 bangunan tersebut menjadi milik klub sepak bola Arseto sebagi tempat tingal dan mess bagi para pemain Arseto Solo. Namun kini sebagian besar bangunan dibiarkan kosong tak terawat.[6]

Dalem Poerwadiningratan
Dalem Purwodiningratan terletak di lingkungan dalam Keratonan, Baluwarti dan merupakan bangunan dalem yang terluas, terbesar dengan pagar tertinggi di lingkungan itu (90m x 100m atau sekitar 1 Ha).
Bangunan ini dibuat oleh Sunan Paku Buwono IV bersamaan dengan dibangunnya Dalem Suryohamijayan dan Dalem Sasonomulyo. Ketika Dalem Poerwadiningratan selesai dibangun, Sinuhun PB IV berkenan untuk mengadakan Lenggah Sinoko (sidang pemerintahan dihadapan para menteri) di bangunan tersebut.
Dalem ini kemudian diserahkan kepada Kanjeng Ratu Pembayun yang dinikahi oleh KGPH Mangkubumi II, kemudian diwariskan kepada KPH Riyo Atmodjo. Putra beliau yang mendapatkan hak waris atas dalem adalah Kanjeng Raden Mas Haryo Purwodiningrat Sepuh dan kemudian pada putranya lagi Kanjeng Raden Mas Tumenggung Haryo Purwodiningrat.
Demikian hingga kawasan ini bernama Poerwadiningratan. (Menurut aturan Jawa, Dalem diberi nama sesuai dengan pemilik terakhir bangunan). Sampai sekarang Dalem Poerwodiningratan dimiliki oleh segenap keluarga keturunan Poerwadiningrat.
Rumah Jawa merupakan pencerminan diri pemilik-nya oleh karena itu seringkali pamor rumah Jawa akan berangsur-angsur turun atau hilang setelah pemiliknya meninggal dunia.
Kanjeng Raden Mas Tumenggung Haryo Poerwodiningrat adalah seorang Bupati Keraton Kasunanan Surakarta yang pernah menjabat sebagai penguasa Sriwedari. Seorang dengan wibawa besar yang tercermin dari dalem yang dimilikinya.
Pengaruh ini dirasakan menurun ketika beliau wafat (sesuai peribahasa Jawa Yen ditinggal Ibu ora kopen ning yen ditinggal Bapak ora kajen). Ini tercermin dari kebiasaan-kebiasaan penghormatan terhadap bangunan yang telah berubah. Misalnya kendaraan yang berlalu-lalang disekitar pendopo atau masuk pendopo tanpa melepas alas kaki.
Pada jaman KRTH Poerwodiningrat, pendatang yang masuk ke lingkungan dalem berjalan kaki bahkan berjalan jongkok di pendopo untuk menghormat. Halaman pendopo ditutup pasir untuk area duduk para abdi dalem yang sowan, dan ada tempat penyimpanan payung-payung untuk para tamu.
Seiring dengan berfungsinya bangunan sebagai kantor Departemen Pertanian dan Kehakiman (1947) kebiasaan ini mulai ditiadakan. Dalem Poerwodiningratan juga pernah digunakan sebagai SMP, SMA, SGA dari Yayasan Pendidikan Tjokroaminoto (sekitar tahun 1950–1960).
Poerwodiningratan juga mempunyai urutan ruang seperti halnya bangunan tradisional Jawa dengan paviliun di sekelilingnya. Paviliun kini ditinggali oleh keluarga Poerwadiningrat.
Dengan dasar (warah/petuah) filosofi dari Sunan Paku Buwono X bahwa "Budoyo Jowo iku ora bedo karo pusoko kadatone, lamun dipepetri bakal hamberkahi nanging lamun siniosio bakal tuwuh haladipun" yang kurang lebih berarti budaya Jawa itu sama dengan pusaka keraton jika dihormati akan memberi berkah, namun jika disia-sia akan memberi hukuman. Untuk itu setiap malam Jumat dalem pringgitan diberi sesajian dengan persyaratan-persyaratan tertentu. Demikian pula pada tanggal 1 bulan Jawa dan setiap tahun pada bulan Sapar untuk memperingati berdirinya bangunan tersebut.
Layaknya bangunan kuno di Jawa, pada bangunan ini sering terjadi hal-hal aneh yang bersifat mistik terutama bila sesajian lupa disajikan di dalam pendopo.

Masjid Agoeng Soerakarta
Masjid Agung Surakarta pada masa lalu merupakan Masjid Agung Negara. Semua pegawai pada Masjid Agung merupakan abdi dalem Keraton, dengan gelar dari keraton misalnya Kanjeng Raden Tumenggung Penghulu Tafsiranom (penghulu) dan Lurah Muadzin.
Masjid Agung dibangun oleh Sunan Paku Buwono III tahun 1763 dan selesai pada tahun 1768. Masjid ini merupakan masjid dengan katagori Masjid Jami, yaitu masjid yang digunakan untuk sholat lima waktu dan sholat Jumat. Dengan status Masjid Negara/Kerajaan karena segala keperluan masjid disediakan oleh kerajaan dan masjid juga dipergunakan untuk upacara keagamaan yang diselenggarakan kerajaan.
Masjid Agung merupakan kompleks bangunan seluas 19.180 meter persegi yang dipisahkan dari lingkungan sekitar dengan tembok pagar keliling setinggi 3,25 meter. Bangunan Masjid Agung Surakarta secara keseluruhan berupa bangunan tajug yang beratap tumpang tiga dan berpuncak mustaka.
Masjid Agung terdiri dari
Serambi, mempunyai semacam lorong yang menjorok ke depan (tratag rambat) yang bagian depannya membentuk kuncung.
Ruang Sholat Utama, mempunyai 4 saka guru dan 12 saka rawa dengan mihrab dengan kelengkapan mimbar sebagai tempat Khotib pada waktu Sholat Jumat.
Pawestren, (tempat sholat untuk wanita) dan Balai Musyawarah,
Tempat berwudhu
Pagar Keliling, dibangun pada masa Sunan Paku Buwono VIII tahun 1858.
Pagongan, terdapat di kiri kanan pintu masuk masjid, bentuk dan ukuran bangunan sama yaitu berbentuk pendapa yang digunakan untuk tempat gamelan ketika upacara Sekaten (Upacara Peringatan hari lahir Nabi Muhammad S.A.W.)
Istal dan garasi kereta untuk raja ketika Sholat Jumat dan Gerebeg, diperkirakan dibangun bersamaan dengan dibangunnya Masjid Agung Surakarta.
Gedung PGA Negeri, didirikan oleh Susuhunan Paku Buwono X (1914) dan menjadi milik kraton.
Menara Adzan, mempunyai corak arsitektur menara Kutab Minar di India. Didirikan pada tahun 1928.
Tugu Jam Istiwak, yaitu jam yang menggunakan patokan posisi matahari untuk menentukan waktu shollat.
Gedang Selirang, merupakan bangunan yang dipergunakan untuk para abdi dalem yang mengurusi masjid Agung.

[sunting] Masjid Mangkoenegaran
Pendirian Masjid Mangkunagaran diprakarsai oleh Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunagara I di Kadipaten Mangkunagaran sebagai masjid Lambang Panotogomo.
Sebelumnya terletak di wilayah Kauman, Pasar Legi, namun pada masa Adipati Mangkunagara II dipindah ke wilayah Banjarsari dengan pertimbangan letak masjid yang strategis dan dekat kepada Pura Mangkunagaran.
Pengelolaan masjid dilakukan oleh para abdi dalem Pura Mangkunagaran, sehingga status masjid merupakan Masjid Pura Mangkunagaran.
Pemugaran besar-besaran atas Masjid Mangkunagaran terjadi pada saat pemerintahan Adipati Mangkunagara VII, pada saat itu Mangkunagara VII meminta seorang arsitek dari Prancis untuk ikut serta mendesain bentuk masjid ini.
Luas kompleks masjid sekitar 4.200 meter persegi dengan batas pagar tembok keliling sebagian besar di muka berbentuk lengkung.
Masjid Mangkunagaran terdiri dari:
Serambi: merupakan ruangan depan masjid dengan saka sebanyak 18 yang melambangkan umur Raden Mas Said (Mangkunagara I) ketika keluar dari Keraton Kasunan Surakarta untuk dinobatkan sebagai Adipati Mangkunagaran. Di serambi terdapat bedug yang bernama Kanjeng Kyai Danaswara.
Maligin: dibangun atas prakarsa Adipati Mangkunagara V, digunakan untuk melaksanakan khitanan bagi putra kerabat Mangkunagaran. Sejak pemerintahan Mangkunagara VII Maligin diperkenankan untuk digunakan oleh Muhammadiyah sebagai tempat khitanan masyarakat umum.
Ruang Sholat Utama: merupakan ruang dalam dengan 4 soko guru dan 12 penyangga pembantu yang berhias huruf kaligrafi Alquran.
Pawasteren: merupakan bangunan tambahan yang dipergunakan untuk tempat sholat khusus wanita.
Menara: dibangun tahun 1926 pada masa Mangkunagara VII. Digunakan untuk menyuarakan adzan, pada saat itu dibutuhkan 3-4 orang muadzin untuk adzan bersama-sama dalam menara ke 4 arah yang berbeda.
Saat ini Masjid Mangkunagaran bernama Al-Wustho, diberi nama demikian pada tahun 1949 oleh Bopo Penghulu Pura Mangkunagaran Raden Tumenggung K.H. Imam Rosidi. Masjid Mangkunagaran merupakan masjid yang cukup unik karena di sini dapat dilihat hiasan kaligrafi Alquran di berbagai tempat, seperti pada pintu gerbang, pada markis/kuncungan, soko dan Maligin.

Masjid Lawejan
Masjid Laweyan dibangun pada masa Djoko Tingkir sekitar tahun 1546. Merupakan masjid pertama di Kerajaan Pajang.
Awalnya merupakan pura agama Hindu dengan seorang biksu sebagai pemimpin. Namun dengan pendekatan secara damai, seiring dengan banyaknya rakyat yang mulai memeluk agama Islam, bangunan dirubah fungsinya menjadi Masjid.
Bersamaan dengan itu, tumbuh sebuah pesantren dengan jumlah pengikut yang lumayan banyak. Konon karena banyaknya santri, pesantren ini tidak pernah berhenti menanak nasi untuk makan para santri sehingga selalu keluar asap dari dapur pesantren dan disebutlah wilayah ini sebagai Kampung Belukan (beluk = asap).
Pemilik masjid ini adalah Kyai Ageng Henis (kakek dari Susuhunan Paku Buwono II). Seperti layaknya sebuah masjid, Masjid Laweyan berfungsi sebagai tempat untuk nikah, talak, rujuk, musyawarah, dan makam.
Kompleks masjid menjadi satu dengan makam kerabat Keraton Pajang, Kartasura dan Kasunanan Surakarta.
Pada makam terdapat pintu gerbang samping yang khusus dibuat untuk digunakan oleh Sunan Paku Buwono X untuk ziarah ke makam dan hanya digunakan 1 kali saja karena 1 tahun setelah kunjungan itu beliau wafat.
Beberapa orang yang dimakamkan di tempat itu diantaranya adalah:
Kyai Ageng Henis
Susuhunan Paku Buwono II yang memindahkan Keraton Kartasura ke Desa Sala hingga menjadi Keraton Kasunanan Surakarta. Konon Paku Buwono II ingin dimakamkan dekat dengan Kyai Ageng Henis dan bertujuan untuk menjaga Keraton Kasunanan Surakarta dari serangan musuh.
Permaisuri Paku Buwono V
Pangeran Widjil I Kadilangu sebagai Pujangga Dalem Paku Buwono II-Paku Buwono III yang memprakarsai pindahnya Keraton dari Kartasura ke Surakarta.
Nyai Ageng Pati
Nyai Pandanaran
Prabuwinoto anak bungsu dari Paku Buwono IX.
Dalang Keraton Kasunanan Surakarta yang menurut legenda pernah diundang oleh Nyi Roro Kidul untuk mendalang di Laut Selatan.
Kyai Ageng Proboyekso, yang menurut legenda merupakan jin Laut Utara yang bersama pasukan jin ikut membantu menjaga keamanan Kerajaan Kasunanan Surakarta.
Di makam ini terdapat tumbuhan langka Pohon Nagasari yang berusia lebih dari 500 tahun yang merupakan perwujudan penjagaan makam oleh naga yang paling unggul. Selain itu pada gerbang makam terdapat simbolisme perlindungan dari Betari Durga. Makam direnovasi oleh Paku Buwono X bersamaan dengan renovasi Keraton Kasunanan. Sebuah bangunan semacam pendapa yang diangkat dari pindahan Keraton Kartasura.
c-law-prasasti1.JPG (26746 bytes)
Pada makam terdapat pintu gerbang samping yang khusus dibuat untuk digunakan oleh PB X untuk ziarah ke makam dan hanya digunakan 1 kali saja karena 1 tahun setelah kunjungan itu beliau wafat.

Parmadi Poetri
Berdiri Januari 1927 atas prakarsa pemerintahan Kasunanan dengan nama HIS (Hollandsch-Inlandsche School) Pamardi Putri. Semula digunakan untuk putri kerabat dekat kasunanan. Sebuah bangunan yang berfungsi sama namun digunakan untuk lelaki bernama Gedung Ksatriyan.

Gedung Pengadilan Tinggi Agama
Awalnya bangunan ini dipergunakan untuk rumah tinggal. Sejak tahun 1938 digunakan sebagai Kantor Departemen Agama dan Pengadilan Tinggi Agama. Ornamen bangunan ini bergaya Arab-Kolonial, terlihat dari penggunaan kubah lengkung yang dihiasi kaca dan berbagai ukiran kaligrafi. Bangunan ini terletak di jalan Slamet Riyadi Surakarta.

Gedung Veteran
Dikenal juga dengan sebutan Gedung Lowo. Awalnya bangunan ini digunakan sebagai rumah tinggal bangsawan/pejabat Belanda. Tahun 1945 gedung ini dihuni oleh keluarga Djian Ho. Gedung ini terletak di jalan Slamet Riyadi dengan bentuk khas arsitektur kolonial untuk sebuah bangunan rumah tinggal.
Setelah merdeka gedung ini diserahkan kepada Pemerintah Indonesia dan digunakan sebagai Gedung Veteran. Pemugaran besar yang berarti tanpa merubah bentuk asli bangunan pernah dilakukan pada tahun 1983-1985.

Kantor Pertani
Berdiri tahun 1908 sebagai bangunan rumah tinggal seorang bangsawan Tionghoa yang dekat dengan kerabat Keraton. Pernah digunakan sebagai tempat usaha batik oleh pedagang Lawiyan. Tahun 1978 dialihfungsikan sebagai kantor PT. Pertani yang melayani bidang administrasi perkantoran. Mempunyai banyak kesamaan detail arsitektur dengan Gedung Veteran, Loji Gandrung dan Bekas Kantor DPU.

Bank Indonesia
Dulu bernama Javasche Bank. Merupakan kantor cabang karya arsitek Hulswit, Fermont dan Ed. Cuipers dengan standart gaya neoklasik. Sekelompok pemuda pernah menggunakan gedung ini untuk menculik PM Syahrir pada masa revolusi.

Geredja Katholik Antonius
Gereja Katolik Santo Antonius Surakarta merupakan gereja tertua di Surakarta yang didirikan tahun 1905. Memiliki skala bangunan yang besar, bangunan ini belum pernah berubah bentuk dan fungsinya hingga hari ini.

Broederan Poerbayan
Bruderan Purbayan merupakan tempat pendidikan sekaligus asrama bagi para Bruder. Didirikan pada jaman penjajahan Belanda tahun 1921/1922.

Tempat Ibadah Tri Dharma Tien Kok Sie

Muka Depan Klenteng Tien Kok Sie
Klenteng yang terletak di Jalan R.E Martadinata no.12 ini sudah berdiri semenjak 263 (2008) tahun yang lalu tepatnya pada tahun 1745. Vihara Avalokitheswara merupakan tempat ibadah umat Tri Dharma ( Confucianisme, Buddhisme, dan Taoisme ). Sangat dipengaruhi oleh arsitektur Tiongkok.

Vihara Am Po Kian
Vihara Am Po Kian didirikan tanggal 24 Agustus 1875 dan mengalami perbaikan pada tanggal 14 Agustus 1944. Dulu merupakan bangunan kuil milik seorang biksu dengan adu ilmu akhirnya bangunan ini dapat dikuasai oleh Kyai Ageng Henis (Kakek dari Raja-raja Mataram) dan diubah fungsikan menjadi masjid.
Di dalam kawasan ini pula Kyai Ageng Henis beserta keluarganya dimakamkan. Pada halaman tengah makam terdapat pendapa tempat menikahkan raja pada masa kerajaan Kartasura. Saat ini tempat tersebut digunakan sebagai tempat persiapan ziarah/istirahat.

Transportasi

Transportasi
Kota Surakarta terletak di pertemuan antara jalur selatan Jawa dan jalur Semarang-Madiun, yang menjadikan posisinya yang strategis sebagai kota transit. Jalur kereta api dari jalur utara dan jalur selatan Jawa juga terhubung di kota ini.

Angkutan darat
Terminal bus besar kota ini bernama Tirtonadi yang beroperasi 24 jam karena merupakan jalur antara yang menghubungkan angkutan bus dari Jawa Timur (terutama Surabaya dan Banyuwangi) dan Jawa Barat (Bandung).
Stasiun kereta api utama bernama Stasiun Solo Balapan yang merupakan stasiun untuk pemberangkatan kereta api kelas Bisnis dan Eksekutif dan terletak berdekatan dengan terminal bus Tirtonadi, suatu hal yang jarang dijumpai di Indonesia. Hubungan perjalanan dari setasiun ini cukup baik, mencakup semua kota besar di Jawa secara langsung dan hampir dalam semua kelas. Di Kota Surakarta juga terdapat tiga setasiun kereta api lain yang lebih kecil, yang salah satunya (Stasiun Solo Kota) dihubungkan dengan rel yang berada tepat sejajar di tepi jalan, satu-satunya yang masih difungsikan di Indonesia. Dua stasiun lainnya adalah Stasiun Purwosari dan Stasiun Palur, kedua stasiun ini melayani penumpang kereta api kelas ekonomi.

Angkutan udara
Surakarta memiliki bandar udara internasional Adisumarmo (dulu bernama "Panasan", sebenarnya terletak di wilayah perbatasan Kabupaten Karanganyar dan Boyolali tapi letak bandara terletak di kabupaten boyolali) yang terhubung ke Jakarta,Kuala Lumpur dan Singapura. Waktu tempuh perjalanan udara dengan Jakarta berlangsung kurang lebih 50 menit. Beberapa operator penerbangan yang melayani rute dari/ke kota Solo antara lain Garuda Indonesia, Lion Air, Adam Air, Sriwijaya Air, Indonesia Air Asia, Mandala Air, Air Asia, Silk Air, dll. Bandar udara ini juga menjadi pusat pemberangkatan dan penerimaan haji dari Asrama Haji Donohudan Boyolali Indonesia.

Angkutan kota
Angkutan umum dalam kota mencakup bus kota, angkot, taksi, becak, dan andong.

Pembagian Administratif

Pembagian Administratif

Balai kota Surakarta
Surakarta dibagi menjadi lima kecamatan. Setiap kecamatan dibagi menjadi kelurahan, lalu setiap kelurahan dibagi menjadi kampung-kampung yang kurang lebih setara dengan Rukun Warga.
Kecamatan di Surakarta:
Kecamatan Banjarsari
Kecamatan Jebres
Kecamatan Lawiyan (disebut juga Laweyan)
Kecamatan Pasar Kliwon
Kecamatan Serengan

Kependudukan

Kependudukan



Jumlah penduduk kota Surakarta pada tahun 2003 adalah 552.542 jiwa terdiri dari 270.721 laki-laki dan 281.821 wanita, tersebar di lima kecamatan yang meliputi 51 kelurahan. Perbandingan kelaminnya 96,06% yang berarti setiap 100 orang wanita terdapat 96 orang laki-laki. Angka ketergantungan penduduknya sebesar 66%. Jumlah penduduk tahun 2003 jika dibandingkan dengan jumlah penduduk hasil sensus tahun 2000 yang sebesar 488.834 jiwa, berarti dalam 3 tahun mengalami kenaikan sebanyak 83.708 jiwa.Catatan dari tahun 1880 [2] memberikan cacah penduduk 124.041 jiwa.
Jika wilayah penyangga Surakarta juga digabungkan secara keseluruhan (Soloraya - Surakarta + Kartasura, Colomadu, Baki, Grogol, Palur), maka luasnya adalah 130 km². Penduduknya berjumlah 850.000 jiwa.